Monday, May 30, 2016

Rp 15 ribu Cukup Untuk Menghilangkan Goresan Mobil

Para pemilik mobil pasti menginginkan tunggangannya tampil bersih, berkilau, seperti baru. Tentu akan menjadi masalah, jika mobil kesayangan mengalami lecet atau tergores, oleh-oleh berlalu lintas di kondisi yang padat.

Namun, jangan panik. Sebenarnya, goresan kecil dapat diatasi dengan berbagai alat rumahan dan mudah didapatkan. Cara ini, terbilang sudah umum diterapkan banyak pemilik kendaraan.

Menurut Ari, penggawa Puas Motor --bengkel cat mobil dan bengkel mobil-- di bilangan Pondok Bambu, Jakarta Timur, goresan kecil tersebut bisa dihilangkan dengan alat yang mudah dibeli dan murah. Alat yang digunakan untuk menghilangkan goresan tersebut yakni menggunakan amplas, kompon, dan kain halus.


"Gampang, yang harus pertama kali dilakukan itu adalah basahi bodi mobil," katanya saat ditemui
Kedua, lanjut dia, gosok bagian mobil yang terkena goresan tersebut dengan amplas benar-benar tipis dan halus. Amplas halus digunakan agar dimaksud dapat menjaga cat mobil tak rusak jika menggunakan amplas kasar.

"Setelah itu, haluskan pakai kompon. (Fungsi kompon) Supaya halus dan meratakan cat yang bagian terkena goresan," ujar dia.

Lebih lanjut, setelah beberapa tahapan tersebut selesai. Lalu lap dengan kain yang berwarna putih dan lembut. "Kenapa pakai lap yang putih dan lembut, karena kalau pakai lap yang berwarna, bisa menempel ke bagian mobil. Supaya tidak terjadi, pakai lap halus dan putih saja," ujarnya.

Untuk membersihkan goresan mobil dengan singkat, Anda tidak perlu mengeluarkan kocek dalam-dalam. Untuk kompon ukuran kecil harganya hanya sekira Rp10 ribu saja, sementara untuk amplas hanya Rp5 ribuan. Selamat mencoba.

Inilah 10 Negara Kaya, Aman, Sehat, dan Bahagia

Setiap tahun, Legatum Institute, sebuah organisasi yang berbasis di London, Inggris mengeluarkan laporan tahunan tentang Survei Prosperity Index, sebuah survei yang menempati peringkat negara paling makmur di dunia.
Dilansir dari BusinessInsider, Senin 30 Mei 2016, jumlah uang suatu negara menjadi salah satu faktor kemakmuran, tetapi Legatum Institute menganggap lebih dari itu dalam membuat peringkatnya.
Organisasi membandingkan 89 variabel. Variabel-variabel ini mencakup indikator tradisional seperti produk domestik bruto per kapita dan jumlah orang dalam pekerjaan penuh waktu, tetapi juga sesuatu yang lebih menarik seperti jumlah server internet yang aman di suatu negara, dan seberapa banyak orang beristirahat setiap harinya.
Variabel itu kemudian dibagi menjadi delapan sub-indeks meliputi: ekonomi, kewirausahaan dan kesempatan, tata kelola, pendidikan, kesehatan, keselamatan dan keamanan, kebebasan pribadi, dan modal sosial. Berikut adalah negara-negara performa teratas berdasarkan hasil survei Legatum Institute:

10. Irlandia 
Irlandia melonjak dua tempat dalam indeks tahun ini, penilaian ini berkat keselamatan dan keamanan negara tersebut yang dinilai sangat baik.
9. Finlandia 
Finlandia, mendapat peringkat terbaik untuk kinerja pemerintahannya di dunia.
8. Belanda 
Mendapatkan satu tempat dalam indeks tahun ini, Belanda berada di peringkat tinggi dalam pendidikan, kesehatan, dan kebebasan pribadi.
7. Australia 
Negara ini menempati peringkat ketujuh selama tiga tahun berturut-turut, dan tahun ini berdasarkan indeks kesejahteraan negara ini dinilai memiliki sistem pendidikan yang terbaik di dunia.
6. Kanada 
Menurut Indeks Kemakmuran, Kanada adalah negara yang menjanjikan kebebasan. Setiap warga negara menikmati kebebasannya.
5. Swedia 
Swedia menempati posisi ke lima berkat kewirausahaan dan kesempatan kerja. Hal itu membantu negara memperoleh satu tempat dalam indeks tahun ini.
4. Selandia Baru 
Jiwa sosial yang kuat dan keterlibatan masyarakat membuat Selandia baru mendapat peringkat terbaik di dunia dan dinilai sebagai bangsa non-Eropa yang paling makmur.
3. Denmark
Warga Denmark dapat menikmati pendidikan tingkat atas, dan  mosal sosial yang tinggi.  Kalau bukan karena skor kesehatan yang relatif miskin (16), negara itu mungkin menempati peringkat atas seluruh Indeks tahun ini.
2. Swiss 
Swiss mendapat peringkat yang baik dari indeks Indeks Kemakmuran selama tiga tahun berturut-turut.
1. Norwegia 
Negara Skandinavia ini menempati posisi puncak Indeks Kesejahteraan, setelah tahun lalu 2015 menempati posisi yang sama. Norwegia merupakan satu-satunya negara yang mendapat  nilai di atas 10 di setiap subindex.

Kebiasaan menggigit kuku dapat menurunkan IQ

Pernahkah terbesit dalam benak Anda bahwa ternyata kebiasaan menggigit kuku dapat menurunkan IQ? Hal ini terutama sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Memiliki anak merupakan anugerah terindah bagi seluruh anggota keluarga, khususnya bagi sepasang suami istri yang sudah mendambakan kehadiran seorang anak ditengah-tengah keluarga mereka. Namun semakin besar seorang anak, makin semakin besar pula tanggung jawab orang tua untuk membesarkan anak tersebut agar menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa. Sebelum melangkah lebih jauh tentang bagaimana mengasuh anak yang baik, pecinta kumpulan misteri mungkin baru mendengar kabar yang mengatakan bahwa menggigit kuku bisa menurunkan tingkat IQ anak. Mengapa bisa begitu?

Kebiasaan mengigit kuku yang buruk

Banyak anak kecil yang setidaknya pernah melakukan kebiasaan menggigit benda-benda untuk dimasukkan kedalam mulutnya seperti pensil, pulpen, mainan, dan sebagainya. Ketika sang anak beranjak besar, mulailah kebiasaan menggigit tersebut berkurang atau malah bisa berganti menjadi kebiasaan menggigit kuku. Kebiasaan untuk menggigit kuku ini biasanya dilakukan ketika seseorang sedang merasa stress, senang, bosan, atau yang lebih parah lagi karena sedang tidak ada kegiatan saja. Kebiasaan mengigit kuku merupakan salah satu kebiasaan yang dilakukan secara tidak sadar yang juga bisa termasuk kedalam perilaku yang menimbulkan kecemasan. Kebiasaan menggigit kuku bisa jadi merupakan kebiasaan yang sifatnya turun-temurun dari anggota keluarga. Selain mengigit kuku, kebiasaan lain yang juga bisa diturunkan adalah kebiasaan untuk menggaruk hidung, memainkan rambut, atau menggertakkan gigi. Pelaku yang biasa melakukan kegiatan tersebut adalah anak-anak dan remaja.
Hubungan antara kandungan timah dengan kebiasaan mengigit kuku
Pendapat mengenai kebiasaan menggigit kuku dapat menurunkan IQ muncul ketika ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh sekelompok ilmuwan Rusia yang menyoroti kebiasaan menggigit kuku yang bisa mengganggu intelegensi seorang anak. Pada umumnya, anak-anak suka bermain dan tempat yang digunakan untuk bermain bisa dimana saja, baik itu didalam maupun diluar rumah. Karena tempat bermain yang tidak terbatas seperti itulah, maka anak juga bisa memiliki risiko untuk keracunan timah karena timah adalah salah satu logam yang bisa menumpuk dengan mudah dibawah kuku. Kemungkinan untuk keracunan ini bisa diperparah oleh anak yang memiliki kebiasaan untuk menggigit kukunya, apalgi jika anak memiliki kebiasaan untuk menggigit kukunya sampai ke bagian kutikula karena bisa menyebabkan infeksi dan luka. Belum lagi tampilan kuku yang tidak cantik karena kukunya sudah habis dikuliti, lalu sebenarnya apa keuntungan yang didapatkan dari mengigit kuku ini?
Satu hal yang perlu Anda garis bawahi adalah paparan timah yang menumpuk didalam kuku itu bisa semakin parah oleh kebiasaan anak yang suka mengigit kuku. Timah-timah tersebut bisa masuk kedalam tubuh anak dan secara tidak langsung akan memengaruhi tumbuh kembang anak, dan memicu adanya kerusakan sistem pada saraf anak. Timah ini bisa dengan mudah ditemukan pada debu dan tanah; dua benda yang sangat akrab digunakan oleh anak sebagai media untuk bermain. Tidak hanya itu, kandungan timah juga terdapat pada buah-buahan dan sayuran. Hal ini terjadi apabila buah-buahan dan sayuran tersebut tidak dicuci dengan baik dan benar.
Kandungan timah berada dimana-mana. Jika Anda ingin mengetahui seberapa tinggi atau rendahnya kandungan timah yang berada didalam tubuh Anda, maka Anda bisa melihatnya dengan cara memerhatikan letak rumah. Jika rumah Anda terletak di pinggir jalan yang berdebu, maka kemungkinan anak untuk terpapar kandungan timah akan jauh lebih tinggi. Belum lagi jika anak sering bermain dengan benda-benda yang memiliki kandungan cat yang cukup banyak.
Mengapa anak suka menggigit kuku?
Beberapa anak mengaku suka menggigit kuku karena beberapa alasan seperti adanya rasa ingin tahu bagaimana rasanya menggigit kuku itu, atau bisa juga karena faktor lain seperti mengatasi kebosanan ketika tidak ada aktivitas, timbulnya rasa cemas, dan untuk menutupi rasa takut akan suatu hal. Kebiasaan untuk menggigit kuku juga disebut dengan nervous habit. Nervous habit adalah sebuah kebiasaan yang muncul akibat adanya perasaan cemas atau gelisah. Kebiasaan ini tentunya tidak baik dan harus segera diatasi, karena kalau tidak diatasi maka kebiasaan menggigit kuku ini akan berlangsung sampai anak tumbuh dewasa.
Kebiasaan ini akan berhenti dengan sendirinya hanya jika beberapa syarat terpenuhi seperti ketika kebiasaan ini tidak dilakukan secara berlebihan, tidak melukai diri sendiri, dilakukan secara tidak sadar, atau melakukan kebiasaan tersebut sebagai bentuk respon terhadap hal tertentu. Namun jika kebiasaan ini tetap berlangsung dalam waktu lama dan sering dilakukan, ada solusi untuk mengatasinya. Anda bisa bertanya pada anak apakah ada sesuatu yang membuatnya sering merasa cemas, gelisah atau takut. Apabila Anda sudah mengetahui masalahnya, bantulah anak untuk menghentikan kebiasaan menggigit kuku tersebut dab bantulah dia untuk mengungkapkan kekhawatirannya agar kebiasaan menggigit kuku tersebut tidak dilakukan lagi di kemudian hari. Buatlah anak menjadi lebih rileks dan tenang dalam menghadapi masalahnya sehingga kebiasaan menggigit kuku dapat menurunkan IQ tidak akan terjadi.

Bahaya Meniup Makanan Panas

Pernyataan mengenai bahaya meniup makanan panas sudah mulai banyak dibahas setelah banyak yang tahu ada hadist nabi yang melarang untuk meniup makanan ataupun minuman panas yang ada dalam wadah. Nah, supaya kita semakin jelas dan semakin bisa menghubungkan apa fakta ilmiah dibalik hadist nabi tersebut kumpulan misteri akan membahasnya hingga tuntas.
Sebuah hadist riwayat Tirmidzi yang dibenarkan oleh Al-albani mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW melarang untuk bernafas diatas wadah air atau meniupnya. Semakin berkembanganya teknologi sains akhirnya sedikit demi sedikit mulai terkuak mengapa nabi melarang umatnya untuk meniup makanan panas, berikut 3 penjelasan ilmiahnya.
Asam Karbonat
Penyebab larangan meniup makanan yang pertama ini sangat berhubungan erat dengan sebuah zat kimia yang disebut asam karbonat. Asam karbonat atau H2C03 adalah senyawa kimia yang sebenarnya sudah ada didalam tubuh kita dimana berfungsi untuk mengatur kadar keasaman darah. Semakin tinggi kandungan asam karbonat dalam darah maka akan semakin asam darah. Pada normalnya darah memiliki batasan kadar keasaman atau Ph yakni 7,35 sampai 7,45. Jika kadar keasaman ini lebih tinggi dari ph normal maka tubuh dapat berada dalam kondisi asidosis. Kondisi asidosis sendiri cukup berbahaya bagi tubuh yang dapat menyebabkan gangguan jantungan ditandai dengan napas menjadi lebih cepat, sesak, pusing karena tubuh berusaha menyeimbangkan kadar ph darah. Nah, lalu apa hubungannya dengan meniup makanan panas? Penjelasannya adalah apabila seseorang bernafas atau meniupkan nafasnya maka dia akan mengeluarkan senyawa kimia C02 atau karbondioksida. Karbondioksida ini pada dasarnya tidak boleh bersentuhan dengan air, karena jika bersentuhan dengan air yang memiliki susunan kimia H20 akan membentuk senyawa asam karbonat yang berbahaya bagi tubuh. Meskipun banyak yang mengatakan bahwa asam karbonat yang dihasilkan dari hasil tiupan terhadap makanan dan minuman memiliki pengaruh yang sangat kecil pada kesehatan tubuh, bukankah lebih baik kalau kita berusaha menghindarinya? Mencegah tentu lebih baik dari pada mengobati bukan?
H. Pylori
Bakteri H. Pylori juga memegang peranan penting pada pernyataan bahayanya meniup makanan atau minuman yang masih panas. Bakteri H. Pylori adalah bakteri yang menyebabkan gangguan lambung mulai dari luka kecil hingga membesar menjadi tukak lambung. Yang mengerikan lagi, bakteri ini dapat dengan mudah menyebar melalui pernafasan. Tentu gangguan lambung adalah penyakit yang sosialis, siapapun bisa terjangkit. Akan sangat bahaya sekali jika seseorang yang memiliki gangguan lambung atau secara tak sadar memiliki gangguan lambung meniup makanan atau minuman yang akan disajikan pada tamu atau pada anaknya. Bakteri itu nantinya akan berpindah dan mengontaminasi makanan atau minuman tersebut dan akhirnya masuk pada tubuh orang lain.
Mikroorganisme
Pernafasan adalah salah satu jalan keluar bagi mikroorganisme, virus dan bakteri untuk menyebar dan menularkan pada manusia lainnya. Tak hanya asam karbonat dan bakter H. Pylori saja yang bisa menular dan menyebar dengan tiupan, tetapi jenis bakteri dan virus lainnya juga bisa menyebar. Sebut saja virus TBC, virus berbahaya yang terkadang tak disadari oleh seseorang yang mengidapnya yang akan dengan mudah menular melalaui droplet dan pernafasan yang intens. Sedangkan makanan atau minuman adalah sesuatu yang jelas akan masuk kedalam tubuh kita, diserap apa saja yang terkandung didalamnya termasuk nutrisi dan bakteri yang terkandung didalamnya.
Kotoran
Kotoran disini diartikan kotoran yang berada di mulut. Mulut adalah tempat kita menghaluskan semua makanan yang juga dicampur dengan berbagai enzim untuk membantu menghancurkan makanan. Makanan yang hancur tak seluruhnya akan masuk kedalam lambung, pastinya ada sisa makanan yang terselip disela-sela gigi atau menempel di dinding-dinding mulut. Tentunya hal itu berhubungan dengan adab menyajikan makanan pada tamu atau orang lain yang sangat tidak sopan jika kita meniupnya. Belum lagi bakteri yang dengan mudah berpindah dari mulut kita kedalam makanan hanya karena tiupan kita.
Dari penjelasan diatas tentunya sudah jelas mengapa meniup makanan atau minuman yang panas sangat tidak dianjurkan. Yang cukup dikhawatirkan adalah jika makanan atau minuman yang ditiup itu diperuntukan bukan untuk orang dewasa yang notabene sudah memiliki kekebalan tubuh maksimal. Melainkan diberikan kepada bayi atau balita yang dimaksudkan karena si bayi tidak bisa meniup makanannya sendiri. Bayi dan balita masih berada dalam usia yang rentan terkena penyakit. Sedikit saja ada kontaminasi asam karbonat atau bakteri lain pasti langsung direspon tubuh dengan gejala-gejala tak normal seperti diare, demam, muntah atau yang lain sebagainya.
Lepas dari itu semua memang sebenarnya manusia hidup dikodratkan untuk sabar dan menikmati kenikmatan yang ada bukan dengan terburu-buru. Dengan begitu kita akan lebih bisa menryukuri kenikmatan yang diberikan Tuhan kepada kita.